Rendah hati dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti “hal (sifat) tidak sombong atau tidak angkuh”.
Sombong memiliki arti menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah.
Sastrawan besar Indonesia, Taufiq Ismail dalam suatu puisinya menggambarkan kerendahan hati sebagai berikut :
Rendah hati
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..
Betapa pentingnya arti kerendahan hati dalam kehidupan ini, sampai Tuhan berfirman dalam Al Qur’an :
“Dan
hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang
berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil
menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung)
keselamatan.” (QS. Al Furqan: 63)
Banyak kisah sukses
orang yang menerapkan kerendahan hati dalam hidupnya. Lihatlah kisah
Salman al Farisi. Beliau sebagai gubernur dengan senang hati bersedia
memenuhi permintaan seorang tukang cerita (bernama Trubadur) untuk
memanggul sekarung gandum miliknya sampai ke pasar. Rupanya si tukang
cerita tidak tahu bahwa orang yang disuruhnya untuk memanggul gandum
tersebut adalah seorang gubernur. Ketika si tukang cerita itu tahu
bahwa orang yang dimintanya memanggul gandum adalah seorang gubernur,
betapa malunya ia.
Kerendahan hati Salman al Farisi
justru menimbulkan rasa hormat yang mendalam pada si tukang cerita.
Sejarah mencatat kemudian bahwa Salman al Farisi adalah salah satu
khalifah yang berhasil dalam memimpin umatnya mencapai kesejahteraan
dan kemajuan.
Lain lagi kisah tentang Konosuke Matsushita,
seorang pendiri dan pemilik pabrik elektrik yang sangat terkenal di
dunia : Matsushita. Matsushita tidak pernah sekolah formal dan berasal
dari keluarga miskin. Matsushita kecil kemudian bekerja di toko sepeda,
lalu pindah ke perusahaan instalasi listrik. Dia pernah mengambil
kelas teknik malam hari, tapi tidak tamat. Setelah keluar kerja dari
sebuah pabrik elektrik, Konosuke Matsushita bersama temannya Hayashi
merintis usaha pembuatan fitting lampu. Merintis usaha ini tidak mudah.
Ia tidak tahu cara membuat bahan dasar untuk adonan fitting. Mereka
berusaha meneliti bagaimana cara membuatnya, namun selalu gagal. Cara
membuat adonan fitting diperoleh dari seorang kenalan Hayashi yang dulu
melakukan penelitian tentang adonan hitam. Singkat cerita Konosuke dan
Hayashi mampu memproduksi fitting. Namun, fitting hasil produksinya
tidak begitu laku dijual. Keadaan ini terus berlanjut sampai Matsushita
hampir putus asa karena terus merugi.
Sampai pada suatu saat ia
menerima tawaran dari seorang pegawai perusahaan alat listrik. Orang
itu meminta tolong kepada Konosuke untuk membuat tatakan kipas angin
dari adonan hitam bahan pembuat fitting. Dengan kerendahan hati,
Matsushita mau menerima tawaran yang sejatinya tidak sesuai dengan apa
yang diidamkannya di awal ia berusaha. Singkat cerita Konosuke
Matsushita langsung menyanggupi tawaran itu. Sedikit demi sedikit usaha
pembuatan fitting Konosuke makin besar dan ia melakukan inovasi
produknya lebih lanjut. Sekarang kita mengetahui bahwa Matsushita
adalah salah satu raksasa elektronik di dunia.
Kisah
diatas menggambarkan betapa seseorang yang rendah hati, justru mencapai
dihormati dan sukses dalam hidupnya. Kisah pemimpin dunia dan CEO
dunia seperti Soichiro Honda, Anita Roddick, Mahatma Gandhi, Bunda
Theresa, dan Imam Al Ghazali juga semakin menguatkan kita akan kekuatan
“kerendahan hati”
Beberapa penjelasan di atas dapat
menjadi inspirasi bagi kita untuk memahami arti rendah hati atau
kerendahan hati. Rendah hati adalah sikap yang terekspresikan dengan
jelas dari seseorang yang didasarkan pada pemahaman, penghayatan
tentang nilai luhur yang menghargai orang/pihak lain dan ingin agar
dirinya bermanfaat bagi orang lain atau lingkungannya.
Uraian di atas memberi inspirasi bahwa sikap rendah hati akan mendorong orang untuk berperilaku sebagai berikut :
Menghormati orang lain
Rendah
hati mendorong seseorang untuk menghormati orang lain. Lebih lanjut,
sikap menghormati orang lain akan terefleksikan dengan menghargai orang
lain. Penghargaan secara proporsional akan membuat orang lain senang,
bahagia. Sikap ini dapat menjadi awal dari menciptakan suatu kondisi
yang kondusif bagi interaksi yang positif.
Mendengar orang lain
Kemauan
untuk mendengar kebutuhan dan harapan orang lain merupakan sikap yang
luhur. Dengan mendengar, kita bisa mengetahui apa yang diinginkan orang
lain. Dengan mendengar, berarti kita telah berempati pada orang lain.
Setelah kita berempati dan mengetahui kebutuhan orang lain, kita bisa
melakukan identifikasi hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk memenuhi
harapan atau kebutuhan orang yang kita dengar suaranya tersebut.
Memahami orang lain
Setelah
mendengar kebutuhan dan harapan orang lain, kita harus memahami apa
sejatinya kebutuhan dan harapan tersebut. Ketika kita memahami arti
sesungguhnya dari apa yang disampaikan orang kepada kita, kita dapat
mendesain upaya untuk memenuhi kebutuhan dan harapan orang lain.
Sederhana
Rendah
hati membuat kita bisa menerima sesuatu apa adanya. Kita menerima apa
yang menjadi hak kita dan kita tidak memaksakan sesuatu yang bukan hak
kita untuk menjadi milik kita. Sederhana berarti kita dapat
mengendalikan kebutuhan. Kita tidak perlu tergoda untuk melakukan
sesuatu yang berlebihan.
Responsif
Orang
yang rendah hati, akan dengan senang hati berbuat untuk orang lain.
Lihat kisah Salman al Farizi. Ia begitu responsif ketika diminta untuk
menolong orang lain.
Melayani
Dengan
kerendahan hati kita akan bersedia untuk melayani orang lain. Melayani
disini adalah melayani yang didasarkan pada keikhlasan sehingga
pelayanan kita menjadi sesuatu yang “berisi”.
Birokrat yang rendah
hati akan selalu berpikir bagaimana bekerja dengan hati sehingga dapat
memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan organisasinya.
Alangkah
indahnya apabila nilai-nilai kerendahan hati ini menjadi fundamen
birokrasi dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Insya Allah...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar