Kamis, 14 Juni 2012

RENDAH HATI

Rendah hati dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti “hal (sifat) tidak sombong atau tidak angkuh”.
Sombong memiliki arti menghargai diri secara berlebihan, congkak, pongah.

Sastrawan besar Indonesia, Taufiq Ismail dalam suatu puisinya menggambarkan kerendahan hati sebagai berikut :

Rendah hati

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau


Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan


Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,

Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air


Tidaklah semua menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri..

Betapa pentingnya arti kerendahan hati dalam kehidupan ini, sampai Tuhan berfirman dalam Al Qur’an :
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al Furqan: 63)

Banyak kisah sukses orang yang menerapkan kerendahan hati dalam hidupnya. Lihatlah kisah Salman al Farisi. Beliau sebagai gubernur  dengan senang hati bersedia memenuhi permintaan seorang tukang cerita (bernama Trubadur) untuk memanggul sekarung gandum miliknya sampai ke pasar. Rupanya si tukang cerita tidak tahu bahwa orang yang disuruhnya untuk memanggul gandum tersebut adalah seorang gubernur. Ketika si tukang cerita itu tahu bahwa orang yang dimintanya memanggul gandum adalah seorang gubernur, betapa malunya ia.

Kerendahan hati Salman al Farisi justru menimbulkan rasa hormat yang mendalam pada si tukang cerita. Sejarah mencatat kemudian bahwa Salman al Farisi adalah salah satu khalifah yang berhasil dalam memimpin umatnya mencapai kesejahteraan dan kemajuan.

Lain lagi kisah tentang Konosuke Matsushita, seorang pendiri dan pemilik pabrik elektrik yang sangat terkenal di dunia : Matsushita. Matsushita tidak pernah sekolah formal dan berasal dari keluarga miskin. Matsushita kecil kemudian bekerja di toko sepeda, lalu pindah ke perusahaan instalasi listrik. Dia pernah mengambil kelas teknik malam hari, tapi tidak tamat. Setelah keluar kerja dari sebuah pabrik elektrik, Konosuke Matsushita bersama temannya Hayashi merintis usaha pembuatan fitting lampu. Merintis usaha ini tidak mudah. Ia tidak tahu cara membuat bahan dasar untuk  adonan fitting. Mereka berusaha meneliti bagaimana cara membuatnya, namun selalu gagal. Cara membuat adonan fitting diperoleh dari seorang kenalan Hayashi yang dulu melakukan penelitian tentang adonan hitam. Singkat cerita Konosuke dan Hayashi mampu memproduksi fitting. Namun, fitting hasil produksinya tidak begitu laku dijual. Keadaan ini terus berlanjut sampai Matsushita hampir putus asa karena terus merugi.
Sampai pada suatu saat ia menerima tawaran dari seorang pegawai perusahaan alat listrik. Orang itu meminta tolong kepada Konosuke untuk membuat tatakan kipas angin dari adonan hitam bahan pembuat fitting. Dengan kerendahan hati, Matsushita mau menerima tawaran yang sejatinya tidak sesuai dengan apa  yang diidamkannya di awal ia berusaha. Singkat cerita Konosuke Matsushita langsung menyanggupi tawaran itu. Sedikit demi sedikit usaha pembuatan fitting Konosuke makin besar dan ia melakukan inovasi produknya lebih lanjut. Sekarang kita mengetahui bahwa Matsushita adalah salah satu raksasa elektronik di dunia.

Kisah diatas menggambarkan betapa seseorang yang rendah hati, justru mencapai dihormati dan sukses dalam hidupnya. Kisah pemimpin dunia dan CEO dunia seperti Soichiro Honda, Anita Roddick, Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, dan Imam Al Ghazali juga semakin menguatkan kita akan kekuatan “kerendahan hati”

Beberapa penjelasan di atas dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk memahami arti rendah hati atau kerendahan hati. Rendah hati adalah sikap yang terekspresikan dengan jelas dari seseorang yang didasarkan pada pemahaman, penghayatan tentang nilai luhur yang menghargai orang/pihak lain dan ingin agar dirinya bermanfaat bagi  orang lain atau lingkungannya.

Uraian di atas memberi inspirasi bahwa sikap rendah hati akan mendorong orang untuk berperilaku sebagai berikut :

Menghormati orang lain
Rendah hati mendorong seseorang untuk menghormati orang lain. Lebih lanjut, sikap menghormati orang lain akan terefleksikan dengan menghargai orang lain. Penghargaan secara proporsional akan membuat orang lain senang, bahagia. Sikap ini dapat menjadi awal dari menciptakan suatu kondisi yang kondusif bagi interaksi yang positif.

Mendengar orang lain
Kemauan untuk mendengar kebutuhan dan harapan orang lain merupakan sikap yang luhur. Dengan mendengar, kita bisa mengetahui apa yang diinginkan orang lain. Dengan mendengar, berarti kita telah berempati pada orang lain. Setelah kita berempati dan mengetahui kebutuhan orang lain, kita bisa melakukan identifikasi hal-hal apa yang perlu dilakukan untuk memenuhi harapan atau kebutuhan orang yang kita dengar suaranya tersebut.

Memahami orang lain
Setelah mendengar kebutuhan dan harapan orang lain, kita harus memahami apa sejatinya kebutuhan dan harapan tersebut. Ketika kita memahami arti sesungguhnya dari apa yang disampaikan orang kepada kita, kita dapat mendesain upaya untuk memenuhi kebutuhan dan harapan orang lain.

Sederhana
Rendah hati membuat kita bisa menerima sesuatu apa adanya. Kita menerima apa yang menjadi hak kita dan kita tidak memaksakan sesuatu yang bukan hak kita untuk menjadi milik kita. Sederhana berarti kita dapat mengendalikan kebutuhan. Kita tidak perlu tergoda untuk melakukan sesuatu yang berlebihan.

Responsif
Orang yang rendah hati, akan dengan senang hati berbuat untuk orang lain. Lihat kisah Salman al Farizi. Ia begitu responsif ketika diminta untuk menolong orang lain.

Melayani
Dengan kerendahan hati kita akan bersedia untuk melayani orang lain. Melayani disini adalah melayani yang didasarkan pada keikhlasan sehingga pelayanan kita menjadi sesuatu yang “berisi”.
Birokrat yang rendah hati akan selalu berpikir bagaimana bekerja dengan hati sehingga dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya dan  organisasinya.

Alangkah indahnya apabila nilai-nilai kerendahan hati ini menjadi fundamen birokrasi dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Insya Allah...

Tidak ada komentar: