Senin, 14 November 2011

HAMKA Dalam Ketokohan dan Tauladan Orang Minangkabau

Buya Hamka baru saja ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dalam upacara di Istana Negara yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketokohan Buya Hamka yang membuat ulama serta pejuang ini pantas menyandang status sebagai pahlawan nasional.
Sebelumnya, sederet nama dari Minang juga telah diakui ketokohannya secara nasional dan menyandang status serupa. Sebut saja seperti Bung Hatta dan M Natsir. Bagaimana tanggapan petinggi di Sumbar terkait penganugerahan gelar pahlawan nasional pada tokoh-tokoh asal Minang ini?

“Saya bangga dan senang dengan pemberian gelar pahlawan nasional bagi tokoh-tokoh Minang termasuk penganugerahan gelar serupa pada Syafruddin Prawiranegara,” kata Wakil Gubernur Sumbar, Muslim Kasim seperti yang dirilis  VIVAnews, Senin, 14 November 2011.

Kebanggaan ini, ujar Wagub, memotivasi kalangan muda Minangkabau, untuk berbuat lebih baik. Penganugerahan gelar pahlawan nasional pada tokoh Sumbar tersebut dinilai sebagai tantangan bagi generasi Minang saat ini.

“Ini menjadi spirit bagi kita untuk membuktikan bahwa orang-orang di Sumatera Barat, memiliki peran aktif dan berjuang bersama untuk kemerdekaan Republik Indonesia,” tambah Muslim. Terkait kiprah Syafruddin Prawiranegara yang bukan orang Minang, menurutnya, kiprah mantan Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) melekat dalam ingatan orang Minang.

Orang Berani
Walikota Padang Fauzi Bahar mempunyai cerita sendiri terhadap figur Buya Hamka. Penggemar Buya Hamka ini rela mengikuti pengajian Buya Hamka di salah satu masjid di Jakarta Selatan, sewaktu masih kecil.

“Dari dulu, ke mana pun beliau memberi pengajian, saya kerap mengikutinya,” kata Fauzi Bahar pada VIVAnews. Apa yang membuat orang nomor satu di Kota Padang ini tertarik dengan ketokohan Buya Hamka?

Menurut Fauzi, ia mengenal ketokohan Buya Hamka dari orang tuanya. Beragam buku tulisan Buya Hamka seperti "Tenggelamnya Kapa Van Der Wijck" merupakan persinggungannya dengan ustad sekaligus pejuang tersebut. Direcoki dengan sejumlah buku Buya Hamka membuat Fauzi, selalu bersemangat untuk mendengar langsung cerita dari orang tuanya.

“Saya selalu berada di saf depan dan cepat-cepat datang ke pengajian Buya Hamka jika tahu ada pengajiannya,” cerita Fauzi. Ia mengaku, figur Buya Hamka punya daya tarik tersendiri.
“Sampai sekarang tidak akan pernah ada ditemukan sosok seperti beliau,” ujar Walikota. Sebagai anak muda saat itu, Fauzi mengenal Buya Hamka sebagai sosok yang berani dalam menentang arus.

“Beliau orang yang berani berkata benar. Beliau berkata tentang bahaya komunis saat komunis masih kuat, dan menentang Orde Baru yang dianggapnya keliru,” papar Fauzi.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang disingkat HAMKA selain dikenal sebagai pemimpin Muhammadiyah, juga seorang penulis dan aktivis. Karya sastranya telah diangkat ke layar lebar yakni, novel “Di Bawah Lindungan Kabah” yang ditulisnya pada tahun 1936.

Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925, ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia. Di masa kemerdekaan, Hamka ikut membesarkan Partai Masyumi, namun belakangan lebih giat di bidang sosial keagamaan

Biografi

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan HAMKA, yakni singkatan namanya, (lahir di desa kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, dan aktivis politik.

Belakangan ia diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan buat orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

Ayahnya adalah Syekh Abdul Karim bin Amrullah, yang merupakan pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906.

Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usianya mencapai 10 tahun, ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto, dan Ki Bagus Hadikusumo.
Hamka mula-mula bekerja sebagai guru agama pada tahun 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan dan guru agama di Padang Panjang pada tahun 1929. Hamka kemudian dilantik sebagai dosen di Universitas Islam, Jakarta dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang dari tahun 1957 hingga tahun 1958. Setelah itu, beliau diangkat menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta dan Profesor Universitas Mustopo, Jakarta. Dari tahun 1951 hingga tahun 1960, beliau menjabat sebagai Pegawai Tinggi Agama oleh Menteri Agama Indonesia, tetapi meletakkan jabatan itu ketika Sukarno menyuruhnya memilih antara menjadi pegawai negeri atau bergiat dalam politik Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Soerjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur, dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang andal.
Hamka juga aktif dalam gerakan Islam melalui organisasi Muhammadiyah. Ia mengikuti pendirian Muhammadiyah mulai tahun 1925 untuk melawan khurafat, bid'ah, tarekat, dan kebatinan sesat di Padang Panjang. Mulai tahun 1928, beliau mengetuai cabang Muhammadiyah di Padang Panjang. Pada tahun 1929, Hamka mendirikan pusat latihan pendakwah Muhammadiyah dan dua tahun kemudian beliau menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Kemudian beliau terpilih menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat oleh Konferensi Muhammadiyah, menggantikan S.Y. Sutan Mangkuto pada tahun 1946. Ia menyusun kembali pembangunan dalam Kongres Muhammadiyah ke-31 di Yogyakarta pada tahun 1950.
Pada tahun 1953, Hamka dipilih sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya mengundurkan diri pada tahun 1981 karena nasihatnya tidak dipedulikan oleh pemerintah Indonesia.
Kegiatan politik Hamka bermula pada tahun 1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam. Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia.Disamping Front PertahananNasional yang sudah ada didirikan pula Badan Pengawal Negeri & kota (BPNK). Pimpinan tersebut diberi nama Sekretariat yang terdiri dari lima orang yaitu HAMKA, Chatib Sulaeman, Udin, Rasuna Said dan Karim Halim. Ia menjadi anggota Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam Pemilihan Umum tahun 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional, Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia, dan anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia.
Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, Hamka merupakan seorang wartawan, penulis, editor, dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi wartawan beberapa buah surat kabar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Pada tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makassar. Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat, dan Gema Islam.
Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastera di Malaysia dan Singapura termasuklah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka'bah, dan Merantau ke Deli.
Hamka pernah menerima beberapa anugerah pada peringkat nasional dan internasional seperti anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar, 1958; Doktor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974; dan gelar Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia.
Hamka meninggal dunia pada 24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan agama Islam. Ia bukan saja diterima sebagai seorang tokoh ulama dan sasterawan di negara kelahirannya, malah jasanya di seluruh alam Nusantara, termasuk Malaysia dan Singapura, turut dihargai.

                     
(sumber.vivanews.com)

Tidak ada komentar: